01962 2200277 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020002200100100002500122245007300147250003400220260004400254300004000298700002200338700002100360082001000381084001600391650002200407650002500429650002200454650002900476520115900505990002001664INLIS00000000001163120260512094640 a0010-0526000005ta260512 g 0 ind  a978-602-6293-89-31 aYustika, Ahmad Erani1 aMenjemput Musim Semi :bTransformasi dan Reformasi Ekonomi 2019-2024 acetakan pertama, Januari 2020 aJawa Timur :bIntrans Publishing,c2020 axvi, 244 p. :bill. ;c15,5 X 23 cm0 aUnggul Heriqbaldi0 aFajar B. Hirawan a338.1 a338.1 YUS m 4aReformasi ekonomi 4aTransformasi ekonomi 4aPemulihan ekonomi 4aKebijakan publik ekonomi aDi balik capaian pembangunan ekonomi yang terlihat mengesankan dalam lima tahun terakhir, terdapat setidaknya tiga persoalan besar yang perlu mendapat perhatian. Pertama, neraca perdagangan dalam dua tahun terakhir terus mengalami defisit, mengulang kondisi yang pernah terjadi pada periode 2012–2014. Kedua, proses transformasi struktural belum berjalan secara optimal. Sektor industri menunjukkan pelemahan, bahkan beberapa industri unggulan seperti tekstil mengalami penurunan kinerja yang signifikan. Kondisi tersebut juga diiringi oleh kinerja sektor pertanian yang belum menggembirakan. Menjemput Musim Semi menjadi metafora bagi harapan masa depan Indonesia yang dapat diwujudkan apabila pemerintah mampu menjalankan reformasi ekonomi secara cepat, tepat, dan terencana. Gagasan reformasi sebenarnya bukan hal baru, karena telah lama digaungkan dan dijalankan oleh pemerintah. Namun demikian, reformasi merupakan kebutuhan yang harus terus dilakukan sesuai dengan perkembangan tantangan dan kebutuhan zaman. Oleh sebab itu, negara memerlukan reformasi mikro yang lebih rinci, terintegrasi, dan didukung oleh kelembagaan yang kuat serta mapan. a3012/PSEKP/2026