02593 2200373 4500001002100000005001500021035002000036006001800056007000300074008004100077020002200118040002200140082001000162084001600172100003100188245014700219250002600366264004400392300002800436336002100464337003000485338002300515504003400538520142900572650001602001650001002017650002202027650003102049700003202080850001202112852005402124999002402178990001702202INLIS00000000119721820260410082925 a0010-0426000023a g 000 0ta260410 g 0 ind  a978-623-97672-2-8 aJKPNPNAbinderda a158.1 a158.1 DAY k0 aDayu PratyaharaePengarang1 aKamu berhak bahagia :bsebuah seni mencintai diri sendiri, meski orang lain melihatmu berbeda /cDayu Pratyahara ; editor, Latipatul Munawaroh aCetakan pertama, 2022 aSemarang :bSyalmahat Publishing,c2022 ax, 170 halaman ;c20 cm 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume aBibliografi : halaman 166-168 aSangat sulit untuk tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kita melakukannya dari waktu ke waktu, di tempat kerja, saat berkumpul bersama kawan, kerabat, dan keluarga, bahkan saat bersosial media. Tanpa disadari, kebiasaan ini dapat memengaruhi cara menilai diri sendiri yang pada akhirnya juga akan memengaruhi kesehatan mental kita. Pernyataan sederhana seperti, "Aku tidak akan bisa melakukannya sebaik dia," dapat dengan cepat berubah menjadi, "Aku tidak dapat melakukan apa pun dengan baik." Sebelum kita menyadarinya, hanya dengan memandang wajah dalam cermin dapat menimbulkan amarah pada diri sendiri, frustrasi, dan akhirnya rasa benci tumbuh terhadap diri sendiri. Seiring berjalannya waktu, seseorang akan menyadari bahwa banyak hal terjadi di luar keinginan dan harapan. Untuk melawan keinginan membenci diri sendiri, bukan hanyal harus menerima keadaan kita sekarang, tetapi juga memaafkan diri sendiri. Tidak ada manusia sempurna, maka sebesar apa pun kesalahan yang seseorang lakukan, ia layak untuk dimaafkan. Begitu juga dengan kita, cobalah lapangkan dada dan maafkan diri sendiri. Kunci untuk mengelola kebencian dalam diri adalah mampu mengenali dan menyadari kapasitas diri. Saat kita mampu untuk mengenali itu semua, maka kita akan mampu mengubah kebencian pada diri sendiri menjadi cinta. Kita akan menyadari adanya hal positif yang patut dihargai dan menjadi bekal untuk memperbaiki diri. 4aKebahagiaan 4aCinta 4apsikologi terapan 4aAnalisis Perbaikan Pribadi0 aLatipatul Munawaroheeditor aJKPNPNA aPerpustakaan Nasional Republik IndonesiafJKPNPNA aCB-D.12 2022-007727 a2022/HD/0355