03397 2200253 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008004100059020001800100082001000118084001600128100002800144245012400172300004500296650001700341700002800358520262500386336002103011337003003032338002303062264004003085990001803125INLIS00000000143438820250327020431 a0010-0325000094ta250327 g 0 ind  a979-56-0096-6 a158.4 a158.4 TOT s0 aToto TasmaraePengarang1 aSpiritual centered leadership (kepemimpinan berbasis spiritual) /cpenulis: K.H. Toto Tasmara ; penyunting: Ivan Satria axii, 298 halaman. :bilustrasi ;c20 cm. 4akepemimpinan0 aIvan SatriaePenyunting aAllah menciptakan manusia sebagai master peace yang seindah-indahnya dan sesempuma-sempumanya ciptaan (ahsani taqzvim). Begitu sempumanya sehingga manusia ditamsilkan sebagai gambaran Tuhan (Imago Dei). Bahkan para malaikat tidak memiliki potensi yang diberikan Allah kepada manusia. Hal ini tersirat dari kisah kosmos teologis tentang bagaimana Allah menciptakan Adam dengan tujuan untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Karena manusia terlahir sebagai khalifahfil ardh, tugas selanjutnya adalah menggali potensi kepemimpinannya vmtuk memberikan pelayanan serta pengabdian yang diniatkan semata-mata karena amanah Allah, yaitu dengan cara memainkan perannya sebagai pembawa rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamiri). Untuk itulah Rasulullah saw. diutus, yaitu menyempumakan akhlak manusia. Ada hubungan yang sangat menarik tentang kata akhlak yang satu akar kata dengan khaliq 'yang mencipta', kemudian khalqi 'penciptaan', dan makhluq 'yang diciptakan'. Sehingga, akhlak dapat drjabarkan sebagai perbuatan yang sesuai dengan fitrah penciptaan dan mempunyai tugas untuk melayani sang pencipta-Nya (Khaliq). Mempertegas penciptaan manusia, Rasulullah saw. bersabda, ”,Setiap orang adalah pemimpin dan kelak akan dimintakan pertanggungan jawabnya berkaitan dengan kepemimpinannya.” Tidak pemah kita sadari bahwa kalimat-kalimat yang kita baca, awalnya adalah huruf-huruf yang berserakan dan tidak beraturan. Kemudian dengan intelek dan kebiasaan kita, huruf tersebut disusun sedemikian rupa sehingga mempunyai arti. Begitu juga keadaan manusia. Dia bagaikan huruf-huruf Ilahi yang terlepas kemudian dengan potensi kepemimpinannya, disusunlah dirinya dalam keteraturan sehingga menjadi bagian dari masyarakatnya. Semakin banyak dan berkualitas huruf yang kita susun, semakin berkualitaslah masyarakat dan bangsanya. Inilah mungkin salah satu tafsir dari Iqra, ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah saw. di gua Hira. Kita diberikan isyarat agar mampu mengumpulkan huruf atau tanda-tanda serta menyusun dan merangkainya menjadi sebuah kalimat yang berharga. Huruf iqra terdiri dari Alif-Qaf-Ra-Alif. Pada huruf- huruf tersebut seakan-akan ada isyarat dan hakikat. Ayat pertama yang turun tanggal 17 Ramadhan itu seakan meng- gedor jiwa kita, mulailah segala sesuatu dengan ALIF- huruf awal yang tegak dan lurus. Mulailah setiap gerak kehidupan dengan hati yang lurus dan ikatlah tekad dan niat yang kuat bahwa seluruh tujuan dimulai dari kecinta- annya yang sangat mendalam hanya kepada Allah. Awali segalanya dengan mengucapkan Bismillahirrahmanir- rahiim karena semua urusan tidak memiliki nilai kesucian. 2rdacontentateks 2rdamediaatanpa perantara 2rdacarrieravolume aJakarta :bGema Insani Press,c2006 a2023/HD/00260