<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<modsCollection xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xmlns="http://www.loc.gov/mods/v3" xsi:schemaLocation="http://www.loc.gov/mods/v3 http://www.loc.gov/standards/mods/v3/mods-3-5.xsd">
  <mods version="3.5">
    <titleInfo>
      <title>Rancangan penyuluhan tentang pemanfaatan limbah feces kelinci  sebagai pupuk organik di kelompok ternak Kedung Rejoso kecamatan Kota Anyar kabupaten Probolinggo</title>
    </titleInfo>
    <name type="personal" usage="primary">
      <namePart>Junaedi  Febri Ahmd</namePart>
    </name>
    <name type="personal">
      <namePart>Hendrawati Luki Amar</namePart>
    </name>
    <name type="personal">
      <namePart>Windari Wahyu</namePart>
    </name>
    <typeOfResource>text</typeOfResource>
    <originInfo>
      <place>
        <placeTerm type="text">Malang</placeTerm>
      </place>
      <publisher>Polbangtan Malang</publisher>
      <dateIssued>2022</dateIssued>
      <issuance/>
    </originInfo>
    <physicalDescription>
      <form authority="marccategory">text</form>
      <form authority="marcsmd">regular print</form>
    </physicalDescription>
    <abstract type="Summary">Permasalahan yang sering dihadapi oleh para peternak kelinci yaitu mengenai penanganan limbah. Berdasarkan programa Desa Kedung Rejoso (2021) kotoran kelinci yang dihasilkan yaitu sebanyak 15-20 kg/hari, sedangkan dalam 1 tahun ada sebanyak 5.500 kg. Kotoran ternak kelinci oleh peternak di Desa   Kedung   Rejoso   hanya   dibiarkan   begitu   saja   tanpa   dilakukannya pengolahan. Salah satu teknologi pengolahan limbah yaitu pembuatan pupuk organik. Pupuk organik merupakan pupuk yang dibuat melalui proses pembusukan atau fermentasi menggunakan mikroorganisme pengurai yang bertujuan untukmeningkatkan kandungan zat-zat organik di dalamnya serta mempercepat terjadinya pupuk. Peternak di Desa Kedung Rejoso belum pernah mendapatkan kegiatan penyuluhan mengenai teknologi inovasi pupuk organik.&#13;
Tujuan dilakukannya penelitiaan ini yaitu 1) Untuk mengetahui hasil kaji terap tentang pembuatan pupuk organik dari kotoran kelinci 2) Merancang penyuluhan tentang pemanfaatan kotoran kelinci sebagai pupuk organik di Kelompok Ternak Kedung Rejoso 3) Mengetahui pelaksanaan penyuluhan tentang pemanfaatan kotoran kelinci sebagai pupuk organik di Kelompok Ternak Kedung Rejoso.&#13;
Metode  penelitian  yang  digunakan dalam  penelitian  ini yaitu  kaji  terap, dimana semua kegiatan penelitian dilakukan di lokasi. Jumlah responden yang digunakan dalam kegiatan penelitian yaitu sebanyak 15 orang. Variabel pengamatan dalam penelitian ini yaitu perubahan perilaku yang meliputi aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Instrumen yang digunakan untuk variabel pengamatan yaitu kuesioner dan kisi-kisi instrumen. Analisa data yang digunakan yaitu  analisis  deskriptif  kuantitatif  dengan  menggunakan  pengkategorian  dan garis kontinum.&#13;
Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  1)  Kaji  terap  pembuatan   pupuk organik dengan memanfaatkan kotoran kelinci dilakukan pada tanggal 16 Mei&#13;
2022 di rumah bapak Septian Sandy Pranata selaku ketua kelompok ternak di&#13;
Desa Kedung Rejoso. Kajian terap yang dilakukan di kelompok ternak ini bertujuan untuk menguji keberhasilan dari proses fermentasi kotoran kelinci. Proses kaji terap yang dilakukan telah berhasil, dikarenakan pupuk organik dari kotoran  kelinci menunjukkan  ciri-ciri yang  sesuai dengan  standart  fermentasi pada umumnya yaitu berwarna coklat kehitaman, aroma harum seperti tape dan teksturnya halus 2) Penyusunan rancangan penyuluhan terdiri dari 4 aspek yaitu materi yang disampaikan tentang pemanfaatan kotoran kelinci sebagai pupuk organik,  metode  yang  digunakan  berupa  ceramah,  diskusi  dan  demonstrasi cara, media yang digunakan adalah leaflet dan video tutorial serta evaluasi yang dilakukan  yaitu  evaluasi  peningkatan  aspek  pengetahuan,  keterampilan  dan sikap 3) Terjadinya peningkatan aspek pengetahuan sasaran sebesar 42,4%, aspek keterampilan sebesar 38,9% dan aspek sikap 34,%. Faktor yang mempengaruhi terjadinya peningkatan perubahan perilaku yaitu umur dan tingkat pendidikan. Umur responden mayoritas termasuk golongan muda (22-35) dan tingkat pendidikan peternak mayoritas SMA/SMK.</abstract>
    <note type="statement of responsibility" altRepGroup="00">POLBANGTAN MALANG</note>
    <subject>
      <topic>PPKH penyuluhan</topic>
    </subject>
    <classification authority="ddc">RES 22194</classification>
    <classification authority="">RES 22194  JUN r</classification>
    <recordInfo>
      <recordCreationDate encoding="marc">230111</recordCreationDate>
      <recordChangeDate encoding="iso8601">20230111103829</recordChangeDate>
      <recordIdentifier>INLIS000000000016739</recordIdentifier>
      <recordOrigin>Converted from MARCXML to MODS version 3.5 using MARC21slim2MODS3-5.xsl
				(Revision 1.106 2014/12/19)</recordOrigin>
    </recordInfo>
  </mods>
</modsCollection>
