02099 2200325 4500001002100000005001500021035002000036007000300056008003900059020001800098082002500116084003100141100002300172245011600195260005300311300004800364500004500412650000900457650001600466650001100482650001300493650001900506650002500525650003000550650002500580650001100605650001000616520112900626990001801755INLIS00000000001957220260122111815 a0010-0126000017ta260122 | | |  a9798880700196 ae.394.12:641.33(510) ae.394.12:641.33(510)/GOO/t1 aGoossaert, Vincent1 aThe Beef Taboo in China :bAgriculture, Ethics, Sacrifice /cVincent Goossaert, Translated by Barbara R. Ambros aHonolulu :bUniversity of Hawai‘i Press,c2025 aComputer Data (1 File: 9,09 MB) CD No. 1802 aDisplay Buku dan Media Massa No. 1; 2026 4aBEEF 4aFOOD TABOOS 4aCATTLE 4aRELIGION 4aANIMAL WELFARE 4aAGRICULTURAL HISTORY 4aSOCIOECONOMIC ENVIRONMENT 4aAGRICULTURAL SYSTEMS 4aTAOISM 4aCHINA aBuku ini menelusuri genesis, konsolidasi, dan daya tahan dari larangan budaya dan keagamaan terhadap penyembelihan dan konsumsi sapi di Tiongkok, yang bermula sekitar milenium pertama Masehi dan bertahan hingga era modern. Vincent Goossaert menganalisis tabu daging sapi ini tidak sebagai fenomena yang terisolasi, tetapi sebagai hasil dari interaksi kompleks berbagai faktor. Argumen utamanya bertumpu pada tiga konteks pembentuk: (1) konteks ekonomi-ekologis, di mana sistem pertanian berbasis padi sawah menjadikan sapi sebagai tenaga kerja yang vital, sehingga meminggirkan peternakan sapi potong; (2) konteks religius-ritual, melalui reformasi praktik kurban yang mengeluarkan daging sapi sebagai persembahan standar; dan (3) konteks doktrinal-etis, khususnya dalam perkembangan Taoisme yang mengkodifikasi larangan ini sebagai pilar moral dan identitas keagamaan. Dengan membandingkannya terhadap praktik seperti vegetarianisme, karya ini memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana agama, etika, dan ekonomi saling bertautan dalam membentuk lanskap budaya konsumsi pangan Tiongkok secara mendasar dan berkelanjutan. a17/BRMPV/2026